Catatan Perjalanan Pendamping Desa
Refleksi : Menjadi seorang Pendamping Desa bukan sekadar pekerjaan administratif, ini adalah seni meniti jembatan antara kebijakan pusat dan realitas akar rumput. Setiap langkah di pematang sawah atau diskusi di balai desa adalah catatan tentang harapan, tantangan, dan perubahan.
Di Balik Debu Jalanan: Catatan Perjalanan Pendamping Desa
1. Perjalanan yang Melampaui Jarak
Bagi seorang Pendamping Desa, hari kerja tidak selalu dimulai di depan meja komputer. Seringkali, ia dimulai di atas motor tua yang menembus kabut pagi atau menyusuri jalan berbatu yang belum tersentuh aspal. Jarak puluhan kilometer bukan sekadar angka di speedometer, melainkan ruang untuk memahami denyut nadi kehidupan warga.
Di sepanjang jalan, kita melihat mengapa sebuah jembatan kecil lebih berharga daripada gedung megah bagi petani yang ingin membawa hasil panennya ke pasar. Di sinilah tugas pertama dimulai: melihat dunia dari mata warga desa.
2. Balai Desa: Ruang Dialektika dan Kopi Hitam
Pusat dari segala aktivitas adalah Balai Desa. Di sana, pendamping desa bukan datang sebagai "guru" yang menggurui, melainkan sebagai mitra bicara. Diskusi seringkali alot—membahas prioritas Dana Desa antara membangun irigasi atau memberikan bantuan modal bagi UMKM desa.
Tantangan: Menjelaskan regulasi yang rumit menjadi bahasa yang sederhana.
Seni: Menengahi perbedaan pendapat antara tokoh masyarakat dan perangkat desa tanpa melukai harga diri siapapun.
Momen Berharga: Ketika warga mulai memahami bahwa transparansi bukan sekadar menempel baliho, tapi tentang rasa memiliki terhadap pembangunan.
3. Merawat Kemandirian (Bukan Ketergantungan)
Catatan paling penting dalam perjalanan ini adalah tentang keberlanjutan. Suksesnya seorang pendamping bukan diukur dari berapa banyak proyek yang selesai, tapi seberapa mandiri desa tersebut saat pendamping tidak lagi di sana.
Mendorong lahirnya BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) yang sehat atau menggerakkan Kader Pembangunan Manusia (KPM) untuk mencegah stunting adalah investasi jangka panjang. Seringkali hasilnya tidak terlihat dalam satu malam, namun benih-benih kesadaran itu mulai tumbuh di setiap musyawarah desa.
4. Pulang dengan Makna
Saat matahari terbenam dan perjalanan pulang dimulai, kelelahan fisik biasanya terbayar oleh rasa syukur. Ada kepuasan tersendiri melihat sebuah Posyandu kini lebih aktif, atau melihat kelompok wanita tani yang mulai bisa membukukan keuangannya sendiri.
Pendamping Desa adalah pengikat janji antara negara dan warga, memastikan bahwa keadilan sosial tidak berhenti di atas kertas, tapi sampai ke pintu-pintu rumah di pelosok nusantara.
Salam Pemberdayaan. Chycan
#kemendespdt #bangundesabangunindonesia #haridesanasional2026 #PendampingDesaHebat
Teruslah berkarya untuk menjadikan masyarakat berdaya
BalasHapus